Well, I was really touched by Ajahn Brahm's book: Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya - the one which my friend gave to me at my 20th birthday.
That book had giving a lot of.. knowledge for me. Especially about life.
It teach us to learn to keep silent, when we know more more than someone that pretending to know.
"Dia yang tahu, tidak berbicara;
Dia yang berbicara, tidak tahu."
And here is a summary of Ajahn Brahm's story titled Suara yang Paling Indah
Seorang tua yang tak berpendidikan tiba di kota besar untuk pertama kalinya untuk mengunjungi anak-anaknya. Ketika beliau diajak berkeliling, beliau mendengar suara yang begitu sumbang, sungguh tak enak didengar. Ketika ditelusuri dari mana asal bunyi tersebut, terdapatlah seorang anak kecil yang tengah belajar biola.
Saat dia mengetahui dari putranya bahwa bunyi yang mengerikan tersebut bernama 'biola', beliau pun memutuskan tak akan pernah mau lagi mendengar suara mengerikan itu.
Hari berikutnya, beliau kembali mendengar suara. Namun kali ini suara itu begitu merdu dan membelai telinga tuanya. Ketika sampai di sumber suara merdu itu, orang tua ini mendapati seorang wanita tua, seorang maestro, tengah memainkan sonata dengan biolanya.
Seketika, si orang tua menyadari kekeliruannya. Suara tak mengenakkan yang kemarin didengarnya bukanlah kesalahan dari biola, bukan pula salah si anak. Itu hanyalah proses belajar seorang anak yang belum bisa memainkan biolanya dengan baik.
Dengan kebijaksanaan polosnya, si orang tua berpikir bahwa mungkin demikian pulanya dengan agama. Saat kita bertemu dengan seseorang yang menggebu-gebu dengan kepercayaannya, tidaklah benar untuk menyalahkan agamanya. Itu hanyalah proses belajar seorang pemula yang belum bisa memainkan agamanya dengan baik. Saat kita bertemu dengan seorang bijak, seorang maestro agamanya, itu merupakan pertemuan indah yang menginspirasi kita selama bertahun-tahun, apa pun kepercayaan mereka.
Namun, ini bukanlah akhir dari cerita.
Pada hari ketiga, si orang tua mendengar suara lain yang bahkan melebihi kemerduan sonata sang maestro biola.
Itu suara sebuah orkestra besar yang memainkan sebuah simfoni.
Setiap anggota orkestra merupakan maestro dari alat musiknya masing-masing, dan mereka telah belajar begitu dalam hingga mampu memainkan harmoni bersama-sama.
"Mungkin ini sama dengan agama," pikir si orang tua, "marilah kita semua mempelajari hakikat kelembutan agama kita melalui pelajaran kehidupan. Marilah kita semua menjadi maestro cinta kasih di dalam agama kita masing-masing. Lalu, setelah kita mempelajari agama kita lebih jauh, lebih baik lagi, mari kita belajar untuk bermain, seperti halnya para anggota orkestra, bersama-sama dengan penganut agama lain dalam sebuah harmoni!"
Itulah suara yang paling indah.